Siap dan rela menderita

Siap dan rela menderita seperti Kristus menderita

(Matius 26: 14-29)

Sengsara atau menderita di dunia ini sedapat-dapatnya dihindari oleh umat manusia, walau ada orang-orang yang bukan pengikut Kristus menghendaki hidup dalam penderitaan untuk mencapai kesempurnaan hidup. Dalam Tuhan Yesus Kristus, para pengikut Kristus termotivasi untuk tidak menghindari tetapi sebaliknya siap dan rela menderita sengsara seperti Kristus juga menderita sengsara. Tujuan Kristus masuk dan menyerahkan diri dalam kesengsaraan hingga mati di kayu salib adalah untuk pengampunan dosa banyak orang. Dengan demikian penderitaan kristiani adalah penderitaan yang bukan untuk mencapai kesempurnaan hidup dan keselamatan dirinya sendiri seperti yang dicita-citakan oleh beberapa orang lain yang bukan pengikut Kristus. Kita bisa juga ikut merasakan bagaimana sikap dan kerelaan Kristus Yesus, Tuhan dan Juruselamat dunia, masuk dalam penderitaan sampai menumpahkan darah untuk pengampunan dosa banyak orang. Lalu bagaimana manfaat penderitaan Kristus bagi kita para pengikut Kristus, dalam kehidupan sehari-hari kini dan di masa mendatang?

Yesus tahu persis bahwa saat  “anak manusia” diserahkan untuk disalibkan sudah dekat (Matius 26:2). Persekongkolan di istana imam besar yang bernama Kayafas untuk menangkap Yesus dan membunuhnya telah direncanakan melalui tipu muslihat (Matius 26:4). Yesus mengambil sikap: tidak akan melawan. Yesus rela dan siap menyerahkan diriNya untuk ditangkap dan dibunuh. Mengapa? Yesus merasa siap dan rela karena hidup yang akan dijalaniNya sesuai dengan nubuat tentang “anak manusia” yang menderita (Matius 26:24). Lalu Yesus tahu persis bahwa proses penangkapanNya selain melalui persekongkolan juga melalui penghianatan oleh seorang muridNya.

Teguran dan kutukan Yesus atas Yudas bukan karena Yesus tidak mau taat atau melawan Allah Bapa-Nya yang di sorga, tetapi untuk kepentingan Yudas itu sendiri. Yesus Kristus, Tuhan kita berpikir (siap) dan perasaan (rela) demikian karena Dia tahu persis rencana Allah dalam diri-Nya. Yesus adalah “anak” yang taat pada “Bapa”-Nya.

Tujuan dan manfaat dari derita dan sengsara Yesus adalah untuk menyediakan pengampunan bagi banyak orang. Kucuran dan percikan darah Yesus dalam derita dan sengsara-Nya sampai mati di kayu salib menjadi suatu tanda (darah) perjanjian yaitu perjanjian baru antara Allah dengan manusia.

Yesus adalah perantara. Perantara antara Allah dan manusia. Allah maha kasih dan adil. Manusia bersalah dan patut dihukum. Yesus menanggung hukuman dan sekaligus membebaskan manusia bersalah. Inilah isi perjanjian melalui penumpahan darah Yesus. Dengan demikian, hanya melalui jalan derita dan sengsara sajalah Allah di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus mengalahkan kuasa jahat sehingga Tuhan Yesus Kristus telah, sedang dan akan menjadi  Tuhan (penguasa mutlak) atas dunia dan segala isinya.

Apakah para pengikut Kristus siap dan rela menderita seperti Kristus menderita? Sebelum melihat manfaat atau tujuan penderitaan kristiani, para pengikut Kristus cenderung menolak segala bentuk penderitaan termasuk menderita seperti Kristus menderita. Apalagi bila para pengikut beranggapan bahwa Tuhan Yesus Kristus telah menderita untuk dunia maka para pengikutNya tidak perlu lagi menderita seperti Kristus hidup. Seperti anak taat kepada bapanya, demikian pula para pengikut Kristus harus siap dan rela menderita kapanpun dan di mana pun, bahkan sampai mati.

Apakah derita dan sengsara para pengikut Kristus seperti Kristus menderita akan memberi dampak juga bagi suatu perjanjian pengampunan dosa atas sesama manusia berdosa?  Jelas tidak. Dengan demikian para pengikut Kristus cuma bisa meneladani Kristus dalam hal bersikap siap (pikiran) dan rela (perasaan) menderita seperti Kristus menderita. Kalau derita yang menyengsarakan Kristus sampai mati di kayu salib memberi pengampunan bagi banyak orang sehingga membuka jalan ke sorga bagi mereka yang berdosa, maka derita para pengikut Kristus sekedar menunjuk pada Kristus yang siap dan rela menyerahkan diri untuk pengampunan dosa manusia pendosa. Jangan sampai dunia cuma melihat derita para pengikut Kristus tanpa dapat melihat Kristus yang menderita.

Leave a Reply