Sedia Berkorban

S e d i a   b e r k o r b a n

(Yohanes 15: 9-15)

Apakah Saudara memiliki sahabat? Banyak orang yang hanya memiliki teman (biasa) atau teman dekat…., tetapi sedikit orang memiliki sahabat. Atau mungkin ada orang yang kita anggap sebagai seorang sahabat tetapi dia tidak menganggap kita sebagai sahabatnya atau sebaliknya. Artinya, dalam pengertian ‘sahabat’ terdapat relasi dan koneksitas satu sama lain dia tidak hanya sepihak.

Sahabat adalah seseorang yang dekat sekali….(di hati) dalam hidup kita. Karena kedekatan yang sangat intim sehingga terjadi pertautan hati. Jadi dalam persahabatan ada rasa cinta, empati, memiliki dan kerinduan, masing-masing untuk saling memberikan yang terbaik.

Perikop ini memberi contoh salah satu bentuk persahabatan yang sungguh indah dan luar biasa. Dalam ayat 14, Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita adalah sahabat-Nya …, bukan teman biasa ataupun budak! Ini merupakan penghargaan yang sangat tinggi bagi manusia. Mengapa Tuhan Yesus menempatkan kita sebagai ‘orang yang istimewa’ dalam hidup-Nya? Ayat sebelumnya (ay.9) mengatakan “…Aku telah mengasihimu, tinggallah di dalam kasih-Ku”.

Ada

cinta dalam persahabatan antara Tuhan Yesus dengan manusia dan cinta itu bersumber dari kasih Allah Bapa, sehingga merupakan kasih yang sejati.

Pengertian ‘tinggal’ di dalam kash Allah bukanlah sikap pasif. Kasih Allah yang telah kita terima harus menjadi motivasi kita untuk mentaati dan melaksanakan kehendak Allah. Karena… ayat 14 belum selesai, kita bisa menjadi sahabat Allah jika kita melakukan apa yang Dia perintahkan. Menuruti perintah Allah akan mendatangkan sukacita jika kita melakukannya sebagai seorang sahabat. Tuntutan menuruti Allah juga menjadi panggilan kita untuk saling mengasihi seperti Tuhan mengasihi kita. Tuhan Yesus sudah memberikan teladan sebagai seorang sahabat, dengan memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya (ay. 13). Peristiwa penderitaan dan kematian Tuhan Yesus di kayu salib adalah bukti dari Kasih-Nya menjadikan kita sebagai sahabat-Nya.

Jika kita telah memperoleh anugerah kasih Allah dan diperkenankan menjadi sahabat-Nya, kita pun seharusnya memperlakukan sesama kita sebagai sahabat. Sehingga dalam kehidupan bersama baik dalam jemaat, keluarga atau pekerjaan; ada interaksi cinta kasih. Sahabat yang saling mengutamakan satu sama lain dan bukan memberlakukan orang lain sebagai objek untuk kepentingan diri sendiri. Jika Tuhan sudah bersedia berkorban untuk sahabat-sahabat-Nya, kita harus menyediakan diri untuk berkorban bagi sahabat-sahabat kita. Kita dituntut untuk belajar menempatkan orang lain sebagai sahabat yang kita cintai dan bukan sebagai ….teman biasa!

Comments are closed.